InsyaAllah akhir pekan ini kami sekeluarga akan mudik ke Palembang dari Pekanbaru via jalur darat dengan kendaraan pribadi. Anak-anak bersemangat sekali menanti jadwal mudik. Saya pun begitu, saya sudah mulai tidak konsentrasi di rumah karena sibuk membayangkan jalanan Pekanbaru-Palembang yang berliku, merencanakan akan kulineran ke mana saja, juga sibuk merencanakan bertemu teman-teman semasa sekolah dulu.
Pake basmallah dulu bok, soalnya abis liat video bikin pempek di youtube dan komennya ya Allah julid banget, jahat.. itu padahal orang berbagi positive vibes lho, komennya udah kayak liat videonya awkarung, youngless dll astaghfirullah... Jadi ciut nyali saya bikin video masak hahaha..
Kenapa ya ada orang yang ngerasa perlu ninggalin komen negatif gitu? Padahal ketikan jempol juga dimintai pertanggungjawabannya. Padahal resep itu apalagi makanan daerah gak ada resep patennya. Padahal kalo videonya "lelet, kelamaan, durasi kepanjangan" dll yaudah skip-skip aja nontonnya. Paling mudah ya banyakin kuota internetnya. Kalo gak suka gak usah ditonton. Kenapa harus nyakitin orang lain. Gak mudah lho bikin video masak gitu..😔
Duh jadi curcol..
Setelah nonton video dan baca komen-komen tadi saya jadi bertanya-tanya apakah cara mereka masak pempek itu salah ya? Karena saya juga bikinnya begitu. Jadi saya pun langsung menelpon ibu saya yang orang Palembang. Begini resep pempek ikan tenggiri ala ibu saya.
Sejak Hijabers Community muncul di akhir tahun 2010, rasanya semakin banyak pengguna hijab di Indonesia. Selain semakin banyak, pengguna hijab juga semakin beragam. Sebelumnya hijabers (istilah untuk wanita yang menggunakan hijab) identik dengan anak pesantren, anak sekolah Islam dan anak ROHIS. Sekarang hijab sudah digunakan hampir semua kalangan. Mulai dari anak sekolah dasar hingga kalangan selebritis.
Saya dan suami menikah Maret 2012. Hingga 2018 ini alhamdulillah kami telah memiliki 3 orang anak. Anak pertama lahir Desember 2012, anak kedua Mei 2014 dan anak ketiga Januari 2016. Dari enam tahun pernikahan ini juga saya sudah melewati lebih kurang 7 kali bulan Ramadhan dengan kondisi yang berbeda. Dan dari 7 tahun ini, baru di tahun 2018 ini saya berpuasa tanpa hamil ataupun menyusui.
Saya berikan gambaran timeline 7 kali Ramadhan yang saya lewati ya
Bulan puasa gini pasti adaaaaa aja wacana soal baju baru. Hal ini wajar mengingat adanya tunjangan hari raya (THR) yang turun di bulan Ramadhan dan juga viralnya iklan toko baju Ramayana 2018 ini. 😆😂😂😂 Becanda ya..
Ibu ngapain bu?
Tapi baju baru tuh gak harus beli baru lho.. Bisa juga dengan mengubah baju lama menjadi baju dengan model berbeda. Seperti yang saya lakukan dengan kemeja suami yang sudah kesempitan dan gak pernah lagi dipakai. Saya mengubahnya menjadi dress untuk Sachie.
Saat orang-orang rame ngomongin ibadah di bulan Ramadhan atau ngomongin menu sahur dan buka puasa, kenapa kita malah ngomongin wajah glowing? Hayo kenapa?
Bulan puasa itu identik banget dengan kurang tidur karena bangun lebih pagi untuk sahur, juga kurang tidur karena memperbanyak ibadah malam (aamiin), tubuh kita juga kurang cairan karena berpuasa selama lebih kurang 14 jam, plus udara Indonesia yang sedang panas-panasnya, hasilnya kulit kita jadi kering dan kusam. Tapi Ramadhan bukan jadi alasan pembenaran kulit kita jadi kusam. Berikut ada tips agar kulit kita tetap terhidrasi dengan baik, kenyal, sehat, glowing selalu selama bulan Ramadhan.
Gak terasa ya sebentar lagi masuk bulan Ramadhan, lebih kurang empat hari lagi kita akan berhadapan dengan tamu yang dinanti-nanti setiap tahunnya. H-4 ini ibu-ibu sudah mempersiapkan apa saja?
Alhamdulillah sudah sebulan Sachie-Syira tidur di kamarnya sendiri. Setelah 5.5 tahun Sachie dan 4 tahun Syira, tidur di kamar ayah-bundanya. Agak telat sebenarnya tapi alhamdulillah berhasil juga. Bagaimana reaksi mereka saat diminta tidur di kamarnya sendiri? Apa saja yang dipersiapkan sebelum anak-anak pindah ke kamarnya?
Anak-anak kami tidak pernah menolak jika ditawari bermain air, gelembung (bubble), dan permainan kotor-kotoran lainnya (messy play). Hampir setiap pagi atau sore hari sebelum mandi, kami bermain kotor-kotoran atau basah-basahan. Buat apa? Kalo lagi bener saya akan jawab, buat menstimulasi sensory anak-anak. Kalo lagi iseng saya akan jawab, biar anak-anak gak nolak kalo diajak mandi wuehehehe...
Salah satu permainan kotor-kotoran yang disukai anak-anak kami adalah bubble snake (ular busa). Permainan bubble snake ini adalah permainan diy pertama yang saya buat untuk anak-anak. Alhamdulillah saya memilih bikin ini ya waktu pertama kali bikin diy mainan. Soalnya langsung berhasil, anak-anak sukaaaaa banget dan bikinnya pun super mudah. Coba kalo pas pertama bikin saya bikinnya finger paint yang pake acara dimasak dulu. Ooooowwwwhh itu super rempong dan besar kemungkinan gagalnya. Kalo gagal, bisa-bisa saya jadi males bikin mainan untuk anak-anak
Beberapa hari yang lalu saya lihat kakak kelas saya bikin bubble snake juga. Tapi ia mengganti nama permainan ini menjadi "permainan belalai busa". Menurut saya nama belalai busa jauh lebih cocok dari nama ular busa. Kan soalnya gelembungnya pas ditiup lebih mirip belalai di wajah ya dari pada ular ngegigit mulut
Jadi apapun namanya mau bubble snake atau belalai busa, ini dia tutorial membuatnya
Alat dan bahan
- botol bekas
- karet gelang
- kaos kaki
- cutter
- mangkuk berisi air putih
- sabun cuci piring cair, bisa juga pakai sabun mandi anak biar sekalian mandi dan busanya gak pedih di mata.
Cara membuat
1. Potong botol menjadi dua bagian atas dan bawah.
2. Buang bagian bawah botol dan juga tutup botolnya. Kita hanya butuh bagian kepala botol.
3. Masukkan kaos kaki ke bagian ujung kepala botol.
4. Pasang karet gelang untuk menjaga kaos kaki tidak bergerak dari botol.
5. Sekarang kita membuat cairan sabunnya. Masukkan sabun cair ke dalam mangkuk berisi air putih.
Selesai
Cara bermainnya
- Celupkan kaos kaki yang sudah diikat ke botol hingga basah semua kaos kakinya. Pastikan mulut botol tidak terkena air sabun
- angkat botol dan kaos kaki dari mangkuk lalu tiup mulut botol hingga keluar gelembung yang panjang menyerupai belalai
Bagaimana ibu-ibu, mudah bukan membuatnya? (baca pakai nada bu sisca )
Saya dulu pernah berpikir wanita dan hormon itu cuma teori berlebihan. Soalnya kalau lagi mens, saya cuma merasakan sakit perut. Lalu sakit perut aka sumilangeun ini bikin saya jadi cranky, emosi, marah-marah. Jadi bukan karena hormon trus tiba-tiba marah. Saya pikir saya marah ya karena badan saya sakit. Orang sakit tuh sengol bacok. Diganggu dikit dia emosi. Iya kan? 😆 (Padahal sakitnya juga karena hormon ya hahaha... dasar pinter 😌)
Kertas origami di tempat kami dijual dengan harga bervariasi, sekitar Rp4.000,- hingga Rp15.000,- per paketnya. Harga origami yang berbeda ini tergantung ukuran dan jenis kertas. Yang jelas kertas origami ini masih sangat terjangkau. Kami menyetok kertas origami di rumah selama dua bulan terakhir ini. Dan dari pengalaman kami selama dua bulan ini berikut ide bermain dengan kertas origami.
Kita bisa belajar dari mana saja. Bisa dari bangku sekolah, dari ikut kelas singkat, dari buku, ikut kajian ilmu, majelis taklim, kejadiaan sehari-hari bahkan bisa dari instagram. Ilmu tidak melulu soal matematika. Ilmu bisa berbentuk nasihat pernikahan dari pakarnya, nasihat mendidik anak dari ibu beranak 5, cara membuat kerajinan penghias rumah, cara membuat sabun cuci ramah lingkungan dll.
Saya sangat tertarik dengan hal-hal yang berbau DIY, berkebun, recycle, masak, mainan anak dan parenting. Sehingga halaman timeline dan explore akun sosmed saya isinya gak jauh-jauh dari hal di atas. Dan inilah 9 akun instagram yang saya anggap kreatif dan inspiratif tempat saya menemukan banyak ilmu baru dan hikmah.
Hi! Selamat datang di blog ini. Saya seorang istri dan ibu dari tiga anak. Blog ini blog gado-ado, saya menulis cerita keseharian, parenting tips a la saya, resep, tentang jahit-menjahit, sedikit tentang beauty dll.