Beberapa hari yang lalu sahabat saya bercerita tentang kegalauannya, kegalauan karena ia tidak galau sama sekali. Saat ini ia sedang dalam proses pengenalan dengan seorang wanita "asing" yang sekarang sedang berubah status menjadi calon istri. Iya. Sahabat saya ini memang makhluk yang aneh. Masa gak galau kok malah galau.
Saya akhirnya bercerita bahwa saat saya memutuskan untuk bilang "ya, saya bersedia mendampingi hidupmu" pada laki-laki yang kini telah resmi menjadi suami saya, saya juga gak galau. Gak degdegan. Datar saja. Bahkan saat akad nikah, saya cuma sedikit sesak nafas dan saya malah curiga pada stagen yang dipasang terlalu kuat.
Ada hal yang membuat saya yakin tentang sepertinya memang dia takdirkan untuk jadi suami saya.
Apa?
Salah satunya bunga Hidrangea biru yang ia berikan saat ulang tahun saya tahun 2010. Beberapa bulan sebelum lamaran. Huwahahahaha...*bekap mulut sendiri*
Bunga ini adalah bunga yang secara tidak sengaja dibelikan ibu dan ayah untuk saya di hari yang sama padahal mereka tidak janjian. Bunga ini yang membuat saya ternganga bahwa ada hal-hal misterius yang disebut ikatan batin. Ikatan batin yang membuat ayah dan ibu saya memilih bunga yang sama, di waktu yang mungkin sama, di tempat yang berbeda, untuk diberikan pada saya. Ikatan batin yang saya yakini diberikan juga kepada dia, lelaki yang menurut teman-teman SMA saya sudah suka saya sejak jaman SMA (walau menurut pengakuan suami saya dia tidak begitu). Ikatan batin untuk memilih bunga yang sama dengan bunga ikatan batin orang tua saya sebagai hadiah ulang tahun. Padahal waktu itu tak ada seorang pun, terlebih dia yang tau kisah bunga indikator asam basa pada tanah ini. Oke, paragraf ini emang ribet.
Jadi ini memang salah satu hal abstrak dalam hidup saya. Ya kali ada orang yang yakin milih suami cuma karena bunga hahaha...
Setelah menikah saya dibelikan bunga ini. Dua pot besar. Tapi karena kami sering bepergian keluar kota bunganya mati. Ya kata suami, nanti dibelikan lagi kalau sudah punya rumah sendiri. Baeklah..
Salam ceria
- ibu hamil yang kangen sama suaminya -
Bukannya bagus ya? Itu artinya Allah beri ia ketenangan jiwa dalam menjalani proses ajaib itu.Iya harusnya begitu.
Saya akhirnya bercerita bahwa saat saya memutuskan untuk bilang "ya, saya bersedia mendampingi hidupmu" pada laki-laki yang kini telah resmi menjadi suami saya, saya juga gak galau. Gak degdegan. Datar saja. Bahkan saat akad nikah, saya cuma sedikit sesak nafas dan saya malah curiga pada stagen yang dipasang terlalu kuat.
Ada hal yang membuat saya yakin tentang sepertinya memang dia takdirkan untuk jadi suami saya.
Apa?
Salah satunya bunga Hidrangea biru yang ia berikan saat ulang tahun saya tahun 2010. Beberapa bulan sebelum lamaran. Huwahahahaha...*bekap mulut sendiri*
![]() |
| Hidrangea tuh kayak gini |
Bunga ini adalah bunga yang secara tidak sengaja dibelikan ibu dan ayah untuk saya di hari yang sama padahal mereka tidak janjian. Bunga ini yang membuat saya ternganga bahwa ada hal-hal misterius yang disebut ikatan batin. Ikatan batin yang membuat ayah dan ibu saya memilih bunga yang sama, di waktu yang mungkin sama, di tempat yang berbeda, untuk diberikan pada saya. Ikatan batin yang saya yakini diberikan juga kepada dia, lelaki yang menurut teman-teman SMA saya sudah suka saya sejak jaman SMA (walau menurut pengakuan suami saya dia tidak begitu). Ikatan batin untuk memilih bunga yang sama dengan bunga ikatan batin orang tua saya sebagai hadiah ulang tahun. Padahal waktu itu tak ada seorang pun, terlebih dia yang tau kisah bunga indikator asam basa pada tanah ini. Oke, paragraf ini emang ribet.
Jadi ini memang salah satu hal abstrak dalam hidup saya. Ya kali ada orang yang yakin milih suami cuma karena bunga hahaha...
Setelah menikah saya dibelikan bunga ini. Dua pot besar. Tapi karena kami sering bepergian keluar kota bunganya mati. Ya kata suami, nanti dibelikan lagi kalau sudah punya rumah sendiri. Baeklah..
Salam ceria
- ibu hamil yang kangen sama suaminya -
Kemarin saya sempat disibukan dengan kegiatan setumpuk bikin bros dari kain. Bukan kain perca, kain ini dulunya dibeli oleh sahabat saya, Adhil untuk pesanan souvenir nikah entah siapa hehe.. Sayangnya projectnya ga terlaksana. Entah kenapa. Nah karena sekarang kalo malem saya susah tidur jadi daripada bengong saya iseng-iseng bikin bros dari kain tersebut.
Bikin bros ini gampang. Ada dua bentuk, bulat dan lancip (?). Nih saya bagi tutorialnya.
![]() |
| bros kain |
Bikin bros ini gampang. Ada dua bentuk, bulat dan lancip (?). Nih saya bagi tutorialnya.
Unik? Sebenernya saya rada takut menggunakan kata ini. Takut malah ga unik. Tapi siapa tau emang unik. Hehehe...
Jadi seminggu yang lalu suami pulang dari tugasnya di Bandung dengan membawa setumpuk kado dari keluarga di Bandung untuk saya dan Sachie. Kadonya telat tapi bagi saya tak ada kata terlambat untuk gratisan hehehe... Salah satu kado isinya jam dinding dan ada kotaknya. Kotaknya tebal dan lucu. Sejak pertama membuka bungkus kadonya saya mikir,
"ih kotaknya unyu banget, jangan dibuang, simpen ah..lucu kali buat dijadiin ini itu..." hehe.. emang dasar ya otak daur ulang.
Nah berhubung saya suka gambar-gambar walau gambarnya belum bagus banget, saya coba gambar karikatur keluarga kecil kami. Wajah suami, saya dan Sachie.
Setelah diotak-atik hasilnya jadi begini
taraaaaaaaaaaa....
Belum rapih bener, mau dirapihin lagi, ada yang mau ga dibikinin kayak gini? Tapi ga gratis ya hehehe... Soalnya kata joker di film The Dark Night
Jadi seminggu yang lalu suami pulang dari tugasnya di Bandung dengan membawa setumpuk kado dari keluarga di Bandung untuk saya dan Sachie. Kadonya telat tapi bagi saya tak ada kata terlambat untuk gratisan hehehe... Salah satu kado isinya jam dinding dan ada kotaknya. Kotaknya tebal dan lucu. Sejak pertama membuka bungkus kadonya saya mikir,
![]() |
| sang kotak kado |
Nah berhubung saya suka gambar-gambar walau gambarnya belum bagus banget, saya coba gambar karikatur keluarga kecil kami. Wajah suami, saya dan Sachie.
![]() |
| sketsa wajah keluarga wilopo |
![]() |
| diwarnain di komputer |
Setelah diotak-atik hasilnya jadi begini
taraaaaaaaaaaa....
Belum rapih bener, mau dirapihin lagi, ada yang mau ga dibikinin kayak gini? Tapi ga gratis ya hehehe... Soalnya kata joker di film The Dark Night
If you’re good at something, never do it for free.*elus-elus dagu, dagu suami*
Sebagai ibu yang punya balita yang sudah bisa jalan dan sedang senang-senangnya eksplorasi dunia sekitarnya, saya suka was-was kalau lihat Sachie mendekati colokan listrik. Terutama colokan yang letaknya mudah terjangkau. Salah satu contohnya colokan paralel yang tergeletak dengan semena-mena di beberapa sudut rumah ini. Apalagi colokan paralel ini ada lampunya. Hiiiii.. makin suka aja baby-ku maininnya..
Oleh karena itu saya cari ide untuk mengamankannya. Ada banyak alternatif, ada yang pakai pengaman seperti ini
ada yang seperti ini
daaaaan ada pula yang seperti ini..
Nah inilah alternatif paling hemat, cepat dan mudah. Bikinnya gampang. Tinggal bikin lubang-lubang pada kotak sepatu yang tak terpakai lagi seperti gambar di bawah ini. Selesai.
Sekarang sudah tidak takut baby-ku towel-towel colokan lagi. In syaa Allah sudah aman..
Selamat mencoba semoga bermanfaat
salam hangat ibu-ibu bahagia :*
Oleh karena itu saya cari ide untuk mengamankannya. Ada banyak alternatif, ada yang pakai pengaman seperti ini
![]() |
| electronic security lock (sumber gambar klik disini) |
![]() |
| penutup colokan (sumber gambar klik disini) |
![]() |
| kotak colokan |
Sekarang sudah tidak takut baby-ku towel-towel colokan lagi. In syaa Allah sudah aman..
Selamat mencoba semoga bermanfaat
salam hangat ibu-ibu bahagia :*
Gara-gara liat headpiece di pinterest plus liat foto oki setiana dewi di instagram, saya jadi pengen bikin sendiri headpiece yang buat dipakai di jilbab. Lebih tepatnya bukan jadi headpiece ya, lebih tepat disebut aksesoris jilbab. Jadi akhirnya kemarin saya iseng bongkar-bongkar koleksi kain bekas, kain sisa, kain
perca yang memang saya kumpulkan dalam satu kardus. Ada ya orang yang
koleksi beginian? Ada dong..
![]() |
| Oki Setiana Dewi (nyomot dari instagramnya Irna Mutiara) |
Penelitian ke sekian ini adalah penelitian paling menyenangkan. Selain karena dikejar-kejar deadline lulus (dikeplak), saya juga sudah punya suami dan anak. Menyenangkan karena saya kerjakan dengan suka cita. Ada sih adegan nangis tapi dibagian akhir-akhir. Yaaa... bagian saya harus ketemu Bu Puji yang (katanya) super galak di rektorat hehe..
Selama penelitian suami tercinta menemani saya selalu. Mengantarkan saya masuk ke desa terpencil, masuk ke perkebunan, mewancarai petani, menemani saya begadang, memeluk saya saat saya merasa "suck:", dia selalu ada. Hampir selalu ada. Dia cuma tidak hadir saat saya sidang (hahaha.. diinjek). Benar, dia memang tak harus memeluk saya saat saya resmi bergelar Sarjana Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, dia sudah memeluk hati saya selalu. Hingga ketidakhadirannya saat saya sidang tidak berartisaya harus ngambek apa pun karena selama ini ia selalu ada.
Saya tidak mau bercerita soal isi penelitian saya ini, karena toh nanti teman-teman bisa lihat dan download di web repository IPB (hih kayak ada yang mau baca aja hehe). Yang jelas penelitian ini punya keistimewaan yaitu selain dianalisa dengan alat bantu berupa SPSS, penelitian ini juga menggunakan software UCINET yang jarang digunakan oleh mahasiswa strata satu. Sehingga saya lebih sering konsultasi ke mahasiswa s2 dan s3. Gaol gelaaa...
Penelitian mengenai petani sayur di Ciaruteun ilir ini juga hasilnya rada ajaib. Pola jaringan komunikasinya berbeda dengan pola-pola komunikasi pada penelitian sebelumnya. Sehingga saya mesti jedor-jedorin kepala ke tembok untuk bisa menganalisanya.
Nantilah kalau saya ada mood saya ceritakan soal Ciaruteun Ilir ini.
Yang jelas saya mau majang ucapan terima kasih dulu ah..
Tulisan mengenai cerita panjang perjalanan skripsi ini emang norak, mengundang cela dan banyak lagi keburukannya.
Ya pokoknya alhamdulillah saya lulus sudaaaaaaah...
Selama penelitian suami tercinta menemani saya selalu. Mengantarkan saya masuk ke desa terpencil, masuk ke perkebunan, mewancarai petani, menemani saya begadang, memeluk saya saat saya merasa "suck:", dia selalu ada. Hampir selalu ada. Dia cuma tidak hadir saat saya sidang (hahaha.. diinjek). Benar, dia memang tak harus memeluk saya saat saya resmi bergelar Sarjana Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, dia sudah memeluk hati saya selalu. Hingga ketidakhadirannya saat saya sidang tidak berarti
Saya tidak mau bercerita soal isi penelitian saya ini, karena toh nanti teman-teman bisa lihat dan download di web repository IPB (hih kayak ada yang mau baca aja hehe). Yang jelas penelitian ini punya keistimewaan yaitu selain dianalisa dengan alat bantu berupa SPSS, penelitian ini juga menggunakan software UCINET yang jarang digunakan oleh mahasiswa strata satu. Sehingga saya lebih sering konsultasi ke mahasiswa s2 dan s3. Gaol gelaaa...
Penelitian mengenai petani sayur di Ciaruteun ilir ini juga hasilnya rada ajaib. Pola jaringan komunikasinya berbeda dengan pola-pola komunikasi pada penelitian sebelumnya. Sehingga saya mesti jedor-jedorin kepala ke tembok untuk bisa menganalisanya.
Nantilah kalau saya ada mood saya ceritakan soal Ciaruteun Ilir ini.
Yang jelas saya mau majang ucapan terima kasih dulu ah..
Tulisan mengenai cerita panjang perjalanan skripsi ini emang norak, mengundang cela dan banyak lagi keburukannya.
Ya pokoknya alhamdulillah saya lulus sudaaaaaaah...
Akhirnya pertengahan 2011 saya mendapatkan ide tema skripsi untuk saya kerjakan. Saya menulis soal moda transportasi massa, fenomena yang menjadikan Bogor disebut-sebut kota seribu angkot. Saya mencoba mengambil hubungan antara komunitas supir angkot dengan kesejahteraan supir.
Komunitas supir angkot?
Iya, ternyata ga cuma pemilik mobil pribadi saja yang punya komunitas, supir angkot pun punya. Yang pernah, sedang dan akan ke Bogor, coba perhatikan beberapa angkot di Bogor. Ada beberapa angkot dengan stiker besar di kaca depan dan/atau belakang angkot. Biasanya tulisannya MONSTER, SALAH GAUL, THE DOCTOR, nah ini ternyata bukan stiker asal stiker lho. Stiker ini adalah penanda bahwa sang supir angkot (yang belum tentu pemilik angkot) adalah anggota klub tertentu.
Saya nemu gambar angkot ini di blog anggota monster lho.. Luar biasa, saya baru tau, mereka emang gaol abez hehe..
Oh iya saya memutuskan untuk meneliti MONSTER dikarenakan mereka komunitas angkot terbesar di Bogor, bahkan sudah mencapai Jabodetabek, Serang dan Bandung. Monster ini singkatan dari Moda transportasi terpadu rakyat (kalo ndak salah inget).
Kenapa komunitas supir angkot ini menarik?
Karena untuk bergabung dengan klub ini mereka dikenakan biaya, ada setoran, serta memasang atribut ini sendiri, dan jika mereka bukan pemilik angkot, mereka juga harus izin dulu kepada pemilik angkot untuk memasang atribut klub. Jika pemilik angkot tidak mau, mereka tidak segan-segan untuk berhenti dan mencari pemilik angkot lainnya yang bersedia mobilnya dihias ala klub mereka (hasil wawancara dengan supir).
Nah loyalitas mereka terhadap klub ini menjadi pertanyaan sendiri bagi saya, kenapa begitu loyal? Apa pengaruh klub bagi kehidupan sosial dan ekonomi mereka?
Saya akhirnya menulis, mengumpulkan literatur, menganalisis dan akhirnya proposal selesai di bulan november. Saya tidak menduga ternyata literatur mengenai angkot pada penelitian sebelumnya di IPB masih sangat sedikit. Bisa hitungan jari. Saya malah menemukan penelitian mengenai angkot yang ditulis oleh mahasiswa FISIP UI.
Ingatkah teman-teman bahwa 2011 adalah tahun tingkat kriminalitas terhadap perempuan yang terjadi di dalam angkot meningkat. Pemberitaan ini sempat membuat dosen pembimbing saya khawatir terhadap keselamatan saya saat penelitian. Maka beliau menyarankan saya untuk selalu ditemani saat melakukan penelitian.
Selesai menulis proposal, saya punya ribuan alasan lain untuk menghindari penelitian. Selain alasan di atas, saya juga sedang mempersiapkan pernikahan. Saya bolak-balik Palembang-Bogor sebulan sekali. Alhasil penelitian baru selesai tahun 2012 mihihihi... Saat saya sedang mengandung Sachie dan usia kandungan sudah 6 bulan. Selesai penelitian apa yang terjadi?
Penelitian saya ditolak sodara-sodara. Jarangnya pertemuan dengan dosen pembimbing dikarenakan kesibukan masing-masing (siapa gueeeeehh??!!! hahaha..) menyebabkan banyak miss komunikasi di antara kami. Setelah membaca hasil mentah penelitian saya, dosen menganggap bahwa penelitian saya terlalu menjurus ke arah ekonomi, bukan seperti skripsi mahasiswa komunikasi dan pengembangan masyarakat lainnya. Dan saya akui beliau benar.
Alhamdulillahnya beliau tawarkan solusi. "Teliti komunitas petani sayur di desa Ciaruteun Ilir, lihat bagaimana jaringan komunikasi yang terbentuk.." dan tema detail ini membimbing saya pada penelitian berikutnya...
Bersambung..
Komunitas supir angkot?
Iya, ternyata ga cuma pemilik mobil pribadi saja yang punya komunitas, supir angkot pun punya. Yang pernah, sedang dan akan ke Bogor, coba perhatikan beberapa angkot di Bogor. Ada beberapa angkot dengan stiker besar di kaca depan dan/atau belakang angkot. Biasanya tulisannya MONSTER, SALAH GAUL, THE DOCTOR, nah ini ternyata bukan stiker asal stiker lho. Stiker ini adalah penanda bahwa sang supir angkot (yang belum tentu pemilik angkot) adalah anggota klub tertentu.
![]() |
| monster (sumber disini) |
Saya nemu gambar angkot ini di blog anggota monster lho.. Luar biasa, saya baru tau, mereka emang gaol abez hehe..
Oh iya saya memutuskan untuk meneliti MONSTER dikarenakan mereka komunitas angkot terbesar di Bogor, bahkan sudah mencapai Jabodetabek, Serang dan Bandung. Monster ini singkatan dari Moda transportasi terpadu rakyat (kalo ndak salah inget).
Kenapa komunitas supir angkot ini menarik?
Karena untuk bergabung dengan klub ini mereka dikenakan biaya, ada setoran, serta memasang atribut ini sendiri, dan jika mereka bukan pemilik angkot, mereka juga harus izin dulu kepada pemilik angkot untuk memasang atribut klub. Jika pemilik angkot tidak mau, mereka tidak segan-segan untuk berhenti dan mencari pemilik angkot lainnya yang bersedia mobilnya dihias ala klub mereka (hasil wawancara dengan supir).
Nah loyalitas mereka terhadap klub ini menjadi pertanyaan sendiri bagi saya, kenapa begitu loyal? Apa pengaruh klub bagi kehidupan sosial dan ekonomi mereka?
Saya akhirnya menulis, mengumpulkan literatur, menganalisis dan akhirnya proposal selesai di bulan november. Saya tidak menduga ternyata literatur mengenai angkot pada penelitian sebelumnya di IPB masih sangat sedikit. Bisa hitungan jari. Saya malah menemukan penelitian mengenai angkot yang ditulis oleh mahasiswa FISIP UI.
Ingatkah teman-teman bahwa 2011 adalah tahun tingkat kriminalitas terhadap perempuan yang terjadi di dalam angkot meningkat. Pemberitaan ini sempat membuat dosen pembimbing saya khawatir terhadap keselamatan saya saat penelitian. Maka beliau menyarankan saya untuk selalu ditemani saat melakukan penelitian.
Selesai menulis proposal, saya punya ribuan alasan lain untuk menghindari penelitian. Selain alasan di atas, saya juga sedang mempersiapkan pernikahan. Saya bolak-balik Palembang-Bogor sebulan sekali. Alhasil penelitian baru selesai tahun 2012 mihihihi... Saat saya sedang mengandung Sachie dan usia kandungan sudah 6 bulan. Selesai penelitian apa yang terjadi?
Penelitian saya ditolak sodara-sodara. Jarangnya pertemuan dengan dosen pembimbing dikarenakan kesibukan masing-masing (siapa gueeeeehh??!!! hahaha..) menyebabkan banyak miss komunikasi di antara kami. Setelah membaca hasil mentah penelitian saya, dosen menganggap bahwa penelitian saya terlalu menjurus ke arah ekonomi, bukan seperti skripsi mahasiswa komunikasi dan pengembangan masyarakat lainnya. Dan saya akui beliau benar.
Alhamdulillahnya beliau tawarkan solusi. "Teliti komunitas petani sayur di desa Ciaruteun Ilir, lihat bagaimana jaringan komunikasi yang terbentuk.." dan tema detail ini membimbing saya pada penelitian berikutnya...
Bersambung..
Jaman social media seperti saat ini nyinyir itu sepertinaya lumrah ya. Terlebih jaman twitter ini. Dimana semua orang seolah berlomba mengeluarkan kicauannya. Setiap orang jadi (merasa) bebas berekspresi. Hingga lupa ada yang mencatat amal baik dan amal buruk, termasuk tweet baik dan tweet buruk.
Semua orang merasa bebas beropini, bebas menasihati walau kadang nasihat tak sampai ke tujuan. Lebih sering no-mention yang berkesan nyinyir hingga lebih banyak yang tersinggung dari pada yang tergugah. Saya tidak menyalahkan, bebas saja. Karena ada pula yang memang berniat baik untuk berbagi ilmu walau ada yang merasa "gue ga butuh" dengan ilmu tersebut. Semuanya memang bergantung pada kebesaran hati. Siapa yang paling berbesar hati menerima nasihat, menerima kebaikan dan ilmu baru, maka ia lah yang paling sakinah dengan social media.
Fenomena ini membuat saya akhirnya memilih untuk "mencoba santun". Bila ada opini yang bersebrangan, rasanya tak perlu mengumumkan ketidaksukaan saya dengan kalimat "baca noh, woi!". Hingga bila ada yang ingin berbagi pendapat dengan saya, sejak awal tak pernah (seolah) saya jadikan musuh.
Pun bila ada nasihat yang rasanya "kok jleb banget sih", kena pas di saya, saya memilih untuk introspeksi saja. Bila sedikit-sedikit ada nasihat lalu saya jadi tersinggung, kapan saya jadi orang baiknya. Iya, kan?
Saya pun memutuskan untuk berbagi ilmu yang cenderung menasihati pada orang yang mau saja. Terlalu banyak orang yang berbagi membuat saya memilih saya hanya akan membagi yang saya miliki pada yang mau saja. Dipaksakan pada yang tidak mau mendengar dan membacanya hanya membuat orang menjadi muak.
Soal bagi-bagi kebahagiaan, saya akan mencoba lebih sabar, menunggu hingga rasanya tak se-euforia awal-awal diamanahi kebahagiaan itu. Agar tak jadi berlebihan alias lebay.
Begitu pula dengan menunjukkan keromantisan. Rasul memang menampakkan keromantisannya di depan sahabat, tapi tak berlebihan. Menggendong istrinya, menempelkan pipinya ke pipi istrinya, berlomba lari, tapi tak selalu begitu. Lebih sering beliau menyampaikan kebaikan dan syiar lainnya, keromantisan hanya sepersekian persen. Porsinya tepat hingga orang tak muak.
Namun bila ada yang berbeda pendapat ya tidak masalah. Biarkan saja. Semua bebas dan sudah dewasa. Semua sudah bisa berpikir layaknya orang dewasa.
Bila ada pula yang belum merasakan kebahagiaan yang sama, semua ini memang perlu kebesaran hati. Beginilah bersocial media. Sabar-sabar saja. Jika ingin menegur, saya sarankan langsung pada targetnya (hehe). Jika sungkan menegur, ya sudah jangan pula dinyinyiri. Betul, kan?
Ah ini hanya masalah empati.
Ini juga masalah kebesaran hati. Kembali pada diri kita sendiri. Kitalah yang memutuskan memilih jalan mana agar tetap sakinah bersama social media.
*benerin jilbab*
Semua orang merasa bebas beropini, bebas menasihati walau kadang nasihat tak sampai ke tujuan. Lebih sering no-mention yang berkesan nyinyir hingga lebih banyak yang tersinggung dari pada yang tergugah. Saya tidak menyalahkan, bebas saja. Karena ada pula yang memang berniat baik untuk berbagi ilmu walau ada yang merasa "gue ga butuh" dengan ilmu tersebut. Semuanya memang bergantung pada kebesaran hati. Siapa yang paling berbesar hati menerima nasihat, menerima kebaikan dan ilmu baru, maka ia lah yang paling sakinah dengan social media.
Fenomena ini membuat saya akhirnya memilih untuk "mencoba santun". Bila ada opini yang bersebrangan, rasanya tak perlu mengumumkan ketidaksukaan saya dengan kalimat "baca noh, woi!". Hingga bila ada yang ingin berbagi pendapat dengan saya, sejak awal tak pernah (seolah) saya jadikan musuh.
Pun bila ada nasihat yang rasanya "kok jleb banget sih", kena pas di saya, saya memilih untuk introspeksi saja. Bila sedikit-sedikit ada nasihat lalu saya jadi tersinggung, kapan saya jadi orang baiknya. Iya, kan?
Saya pun memutuskan untuk berbagi ilmu yang cenderung menasihati pada orang yang mau saja. Terlalu banyak orang yang berbagi membuat saya memilih saya hanya akan membagi yang saya miliki pada yang mau saja. Dipaksakan pada yang tidak mau mendengar dan membacanya hanya membuat orang menjadi muak.
Soal bagi-bagi kebahagiaan, saya akan mencoba lebih sabar, menunggu hingga rasanya tak se-euforia awal-awal diamanahi kebahagiaan itu. Agar tak jadi berlebihan alias lebay.
Begitu pula dengan menunjukkan keromantisan. Rasul memang menampakkan keromantisannya di depan sahabat, tapi tak berlebihan. Menggendong istrinya, menempelkan pipinya ke pipi istrinya, berlomba lari, tapi tak selalu begitu. Lebih sering beliau menyampaikan kebaikan dan syiar lainnya, keromantisan hanya sepersekian persen. Porsinya tepat hingga orang tak muak.
Namun bila ada yang berbeda pendapat ya tidak masalah. Biarkan saja. Semua bebas dan sudah dewasa. Semua sudah bisa berpikir layaknya orang dewasa.
Bila ada pula yang belum merasakan kebahagiaan yang sama, semua ini memang perlu kebesaran hati. Beginilah bersocial media. Sabar-sabar saja. Jika ingin menegur, saya sarankan langsung pada targetnya (hehe). Jika sungkan menegur, ya sudah jangan pula dinyinyiri. Betul, kan?
Ah ini hanya masalah empati.
Ini juga masalah kebesaran hati. Kembali pada diri kita sendiri. Kitalah yang memutuskan memilih jalan mana agar tetap sakinah bersama social media.
Akhir november kemarin saya (plus Sachie) dan adik belanja ke rabbani. Oh iya jadi lulus SMA kemarin adik saya memutuskan untuk memakai jilbab. Sayangnya saat di rumah dia ga pakai jilbab. Alasannya dia ga punya kerudung instan seperti saya. Waktu ditanya kenapa ga ke rabbani, katanya karena ga ada yang menemani. Yasudah, akhirnya kami pergi bertiga. Ternyata rabbani Palembang yang di jalan R.Soekamto lumayan lengkap. Model jilbabnya update. Mbak-mbaknya juga ga jutek.
Eh sekitar dua minggu kemudian, sahabat saya Nuri Izzatil Wafa (alias Ijah) memberitahu saya bahwa ada diskon besar-besaran di rabbani. All item diskon 50%. Ih senangnyaaaaa.. segeralah saya sebarkan kabar baik ini ke ibu dan adik saya. Ibu langsung semangat, karena belanja terakhir kemarin selain tak bisa ikut, ibu juga ga dibelikan. Akhirnya ibu kerjanya pinjam kerudung barunya si adik. Dan adik saya cuma bisa bilang "sewa ya bu.." dih uang-uang siapa juga -___-
Belanja abis-abisan yang direncanakan sejak awal diskon, dari tanggal 14 Desember kemarin akhirnya baru terlaksana tanggal 17. Ternyata setengah toko kosong. Kenapa ya? Sudah habis atau stocknya disimpan? Kerudung yang tersisa hanya model Quds. Pakaian banyak, hanya saja ukuran tertentu untuk model tertentu tidak ada stocknya. Tapi tetap seru sih soalnya jadi telitiiiiii sekali memilih yang cocok hehe... (teteup ya ibu-ibu).
Nah pulangnya kami bawa oleh-oleh empat buah kalender 2014 yang konon katanya didapat jika belanja dengan minimal nominal tertentu. Kalendernya lucu, unik, dan saya suka.Walau menurut saya Solmet agak ganggu di kalender ini.
Kalender 1, Rabbani TV
Kalender 2, Pop-up Rabbani
Agak ribet sih model pop-up ini dirangkainya, dan agak ribet karena lembaran kalendernya misah-misah gitu (itu aja masih dalam plastik). Tapi tetep lucu dan unik.
Buat yang mau menikah dan pengen ngasih souvenir pernikahan atau undangan berupa kalender unik dan lucu bisa nih pake konsepnya rabbani. Semoga menginspirasi ya. Eh tapi jangan pake foto di setiap lembar, bikin eneg hehehe...
Mana nih year end sale lagi huwahahaha...
![]() |
| Kerudung baru giginya udah limaaaaaa |
Eh sekitar dua minggu kemudian, sahabat saya Nuri Izzatil Wafa (alias Ijah) memberitahu saya bahwa ada diskon besar-besaran di rabbani. All item diskon 50%. Ih senangnyaaaaa.. segeralah saya sebarkan kabar baik ini ke ibu dan adik saya. Ibu langsung semangat, karena belanja terakhir kemarin selain tak bisa ikut, ibu juga ga dibelikan. Akhirnya ibu kerjanya pinjam kerudung barunya si adik. Dan adik saya cuma bisa bilang "sewa ya bu.." dih uang-uang siapa juga -___-
![]() |
| Menurut saya polwan cuma strategi marketing, sebenarnya ini year end sale |
Belanja abis-abisan yang direncanakan sejak awal diskon, dari tanggal 14 Desember kemarin akhirnya baru terlaksana tanggal 17. Ternyata setengah toko kosong. Kenapa ya? Sudah habis atau stocknya disimpan? Kerudung yang tersisa hanya model Quds. Pakaian banyak, hanya saja ukuran tertentu untuk model tertentu tidak ada stocknya. Tapi tetap seru sih soalnya jadi telitiiiiii sekali memilih yang cocok hehe... (teteup ya ibu-ibu).
Nah pulangnya kami bawa oleh-oleh empat buah kalender 2014 yang konon katanya didapat jika belanja dengan minimal nominal tertentu. Kalendernya lucu, unik, dan saya suka.
Kalender 1, Rabbani TV
| kotaknya |
| Belum dirangkai |
Sudah dirangkai |
| Lucu ya.. |
Kalender 2, Pop-up Rabbani
| Kotaknya |
| depan |
| samping |
| belakang |
Buat yang mau menikah dan pengen ngasih souvenir pernikahan atau undangan berupa kalender unik dan lucu bisa nih pake konsepnya rabbani. Semoga menginspirasi ya. Eh tapi jangan pake foto di setiap lembar, bikin eneg hehehe...
Mana nih year end sale lagi huwahahaha...
Saya masih menyimpan pita yang tersemat pada bunga mawar merah pertama yang ia berikan. Dulu waktu ia berikan sang dua kuntum mawar itu, saya diminta mengambil sendiri bunganya dari dalam tasnya. Saat saya ambil syukurnya sang mawar tidak rusak dan saya melihat senyum penuh kelegaan di wajahnya. Walau caranya sedikit kurang manis, tapi saya terharu membayangkan senyumnya saat memilih bunga sambil memikirkan saya apalagi bagian bagaimana ia menjaga sang bunga yang ada di dalam tas agar tidak rusak.
Ada pula boneka biru yang katanya ia beli untuk menemani saya selama jauh darinya. Ia sedang jalan bersama teman-temannya saat melihat boneka biru itu. Karena malu ia memisahkan diri dan kembali ke toko tersebut untuk membeli boneka.Saat menyerahkan sang boneka biru ia berkata, "warna matanya persis warna mata kakak.." lucu ya dia.
Saya masih ingat saat ia pulang dari luar kota. Berkotak-kotak coklat ia bawa dan ia ingin makan bersama saya. "Cobain yang ini, yang ini deh ada isinya, yang ini juga.." antusias sekali. Walau sang coklat tak hanya buat saya (karena dia bawa sedikit) juga buat teman-temannya tapi saya bahagia karena saya jadi yang pertama dibagi coklat dan diceritakan betapa enak sang coklat.
Suatu hari karena menghindari macet kami melewati jalan yang asing bagi saya, lalu ia menunjuk kios kecil di pinggir jalan. "Masih inget ga bakso malang itu?" saya buru-buru menengok ke arah yang ia tunjuk sambil tersenyum. Tentu saya ingat, itu tempat pertama kami makan bakso bersama. Makanan favorit kami berdua.
Juga beberapa hari yang lalu, ia meminjam akun email saya diam-diam, ia pinjam untuk belanja online. Saya akhirnya tau karena ada email konfirmasi bahwa produk dengan kode ini itu telah dibayar. Walau tak tau item apa yang dibeli, saya bertanya belanja apa sampai segitu. Dia cuma nyengir sambil bilang "kado ulang tahun buat kamu, mungkin nyampe rumah tanggal sekian". Sebenarnya saya jadi pengen ketawa kenapa mesti pakai email saya, kenapa tak pakai emailnya sendiri biar makin jadi kejutan. Tapi saya tetap bahagia membayangkan ia membuka-buka situs belanja online dan kebingungan memilih hadiah untuk saya.
Dia memang sesederhana itu, semudah itu membuat saya jatuh cinta padanya...
| coba tebak apa ini? yap benar, sang pita |
Ada pula boneka biru yang katanya ia beli untuk menemani saya selama jauh darinya. Ia sedang jalan bersama teman-temannya saat melihat boneka biru itu. Karena malu ia memisahkan diri dan kembali ke toko tersebut untuk membeli boneka.Saat menyerahkan sang boneka biru ia berkata, "warna matanya persis warna mata kakak.." lucu ya dia.
Saya masih ingat saat ia pulang dari luar kota. Berkotak-kotak coklat ia bawa dan ia ingin makan bersama saya. "Cobain yang ini, yang ini deh ada isinya, yang ini juga.." antusias sekali. Walau sang coklat tak hanya buat saya (karena dia bawa sedikit) juga buat teman-temannya tapi saya bahagia karena saya jadi yang pertama dibagi coklat dan diceritakan betapa enak sang coklat.
Suatu hari karena menghindari macet kami melewati jalan yang asing bagi saya, lalu ia menunjuk kios kecil di pinggir jalan. "Masih inget ga bakso malang itu?" saya buru-buru menengok ke arah yang ia tunjuk sambil tersenyum. Tentu saya ingat, itu tempat pertama kami makan bakso bersama. Makanan favorit kami berdua.
Juga beberapa hari yang lalu, ia meminjam akun email saya diam-diam, ia pinjam untuk belanja online. Saya akhirnya tau karena ada email konfirmasi bahwa produk dengan kode ini itu telah dibayar. Walau tak tau item apa yang dibeli, saya bertanya belanja apa sampai segitu. Dia cuma nyengir sambil bilang "kado ulang tahun buat kamu, mungkin nyampe rumah tanggal sekian". Sebenarnya saya jadi pengen ketawa kenapa mesti pakai email saya, kenapa tak pakai emailnya sendiri biar makin jadi kejutan. Tapi saya tetap bahagia membayangkan ia membuka-buka situs belanja online dan kebingungan memilih hadiah untuk saya.
Dia memang sesederhana itu, semudah itu membuat saya jatuh cinta padanya...
Menurut info baby spa bisa bikin bayi tidur lebih nyenyak, lebih tenang dan banyak kelebihan lainnya (silahkan googling sendiri hehe). Walau Sachie tidurnya nyenyak, anaknya anteng, manis, motoriknya cepat, bahasanya pun baik, tapi sebagai emak-emak gaol binti penasaran, akhirnya saya ajak Sachie ke baby spa kemarin. Tepat sehari sebelum usianya satu tahun.
Setelah selesai baby spa saya cuma bisa komen "yaaaah kok gitu doang sih" hahaha...
Soalnya ritualnya cuma pemanasan bentar, renang, pijat deh. Pijetnya juga standar pijat bayi yang setiap hari saya lakukan heu... Tapi tetap senang sih karena jadi punya pengalaman dan menghilangkan rasa penasaran.
Jadi pertama-tama Sachie dibuka bajunya, cuma menyisakan popok. Lalu sama mbak terapisnya Sachie diajak pemanasan sebelum renang. Bukannya nangis, dia malah cengar-cengir bahkan duduk bersandar ke mbak terapisnya. Alhamdulillah..
Tibalah saatnya berenang, popok Sachie dilepas dan kakinya pelan-pelan dicelupkan ke air. Airnya air dingin ya, karena Sachie sudah terbiasa reaksinya juga biasa saja. Dia malah kepingin ambil bola-bola yang mengapung di air. Setelah "nyebur" Sachie masih cengar-cengir, ngoceh-ngoceh, tapi setelah tangannya dilepas mbak terapisnya, dia langsung nangis kenceng. Takut kali ya berasa dilepas ke samudera.
Setelah sekitar 10 menit dan dianya ga berhenti nangis, akhirnya Sachie diangkat, dihanduki, lalu diberi mainan. Saat saya peluk dia sudah tenang, pas lihat mainan dia langsung menyerbu kepingin main. Sambil duduk akhirnya dia dipijat. Sesekali dia merengek manja karena tangannya yang lagi sibuk memegang mainan malah ditarik-tarik untuk dipijat. Lucu deh dia...
Sebenernya ga nyesel-nyesel amat bawa Sachie ke baby spa ini, soalnya murmer, cuma seratus ribu, kalo buat 2x jadi 175 ribu. Kemarin Sachie spanya di RSIA Graha Mandiri, di deretan ruko belakang RM Sri Melayu Way Hitam. Iya emang di Palembang sini baby spa murah meriah. Tapi sepertinya mending beli kolam sama pelampungnya dan spa sendiri deh di rumaaaaah..
Salam ibu-ibu hemat hihihi
xoxo
Setelah selesai baby spa saya cuma bisa komen "yaaaah kok gitu doang sih" hahaha...
Soalnya ritualnya cuma pemanasan bentar, renang, pijat deh. Pijetnya juga standar pijat bayi yang setiap hari saya lakukan heu... Tapi tetap senang sih karena jadi punya pengalaman dan menghilangkan rasa penasaran.
Jadi pertama-tama Sachie dibuka bajunya, cuma menyisakan popok. Lalu sama mbak terapisnya Sachie diajak pemanasan sebelum renang. Bukannya nangis, dia malah cengar-cengir bahkan duduk bersandar ke mbak terapisnya. Alhamdulillah..
Tibalah saatnya berenang, popok Sachie dilepas dan kakinya pelan-pelan dicelupkan ke air. Airnya air dingin ya, karena Sachie sudah terbiasa reaksinya juga biasa saja. Dia malah kepingin ambil bola-bola yang mengapung di air. Setelah "nyebur" Sachie masih cengar-cengir, ngoceh-ngoceh, tapi setelah tangannya dilepas mbak terapisnya, dia langsung nangis kenceng. Takut kali ya berasa dilepas ke samudera.
![]() |
| Masih senyum |
Sebenernya ga nyesel-nyesel amat bawa Sachie ke baby spa ini, soalnya murmer, cuma seratus ribu, kalo buat 2x jadi 175 ribu. Kemarin Sachie spanya di RSIA Graha Mandiri, di deretan ruko belakang RM Sri Melayu Way Hitam. Iya emang di Palembang sini baby spa murah meriah. Tapi sepertinya mending beli kolam sama pelampungnya dan spa sendiri deh di rumaaaaah..
Salam ibu-ibu hemat hihihi
xoxo
Beberapa waktu yang lalu sahabat tersayang, Adkhilnong Utemong alias Adhil menawari saya untuk ikut grup One Day One Juz
Saat gabung kebetulan koordinator butuh data ulang kelompok, jadilah saya tau grup ODOJ120 akhwat ini isinya luar biasa beraneka ragam. Mulai dari mahasiswa, ibu rumah tangga, sampe yang punya cucu. Serius! Ada yang tinggal di Bogor, Serang, Medan, Palembang, Mesir, Turki, dan Jerman. Dan semuanya keren-keren.
Aturannya gampang. Satu hari habiskan satu juz, jadi sekelompok (30 orang) bisa khatam quran dalam satu hari itu. Waktunya dimulai dari 00.00 sampai 24.00 waktu setempat. Gimana kalo haid? Bisa diganti dengan mendengarkan murotal sambil menyimak lewat quran digital. Seru deh, masa jam 6 pagi sudah ada yang laporan menuntaskan 1 juz. Hzzzz... sabar woiiii gue baru juga selembar hahaha...
Bagi saya sendiri grup ini membantu sekali. Menyemangati saya yang sedang hamil ini untuk membaca lebih banyak ayat-ayat al-quran. Walau kadang selesai target setelah mendekati limit laporan. Senang rasanya banyak teman-teman yang berjuang bersama saya. Walau awalnya "ala bisa karena terpaksa" (hehe) tapi semoga semakin hari kita makin bisa memperbaiki motivasi dan keikhlasan. Ayo semangat!!!
*nyeduh kopi*
oh iya ini kontak ODOJ bagi yang pengen gabung
facebooknya : https://www.facebook.com/KomunitasOneDayOneJuz
twitternya : https://twitter.com/ODOJ_ID
webnya : http://onedayonejuz.org/
"Des ikutan grup One Day One Juz bareng gue ya, grup gue masih kurang 3 orang nih.."Sebenarnya waktu ditawari Adhil saya rada ragu, mengingat aktivitas saya yang punya bayi dan sedang hamil (lagi). Pertanyaan "bisa ga ya?" muncul seketika. Tapi karena yang nodong Adkhilni Utami, jadi rasa enggan untuk menolak itu hilang (heu..)
Saat gabung kebetulan koordinator butuh data ulang kelompok, jadilah saya tau grup ODOJ120 akhwat ini isinya luar biasa beraneka ragam. Mulai dari mahasiswa, ibu rumah tangga, sampe yang punya cucu. Serius! Ada yang tinggal di Bogor, Serang, Medan, Palembang, Mesir, Turki, dan Jerman. Dan semuanya keren-keren.
Aturannya gampang. Satu hari habiskan satu juz, jadi sekelompok (30 orang) bisa khatam quran dalam satu hari itu. Waktunya dimulai dari 00.00 sampai 24.00 waktu setempat. Gimana kalo haid? Bisa diganti dengan mendengarkan murotal sambil menyimak lewat quran digital. Seru deh, masa jam 6 pagi sudah ada yang laporan menuntaskan 1 juz. Hzzzz... sabar woiiii gue baru juga selembar hahaha...
Bagi saya sendiri grup ini membantu sekali. Menyemangati saya yang sedang hamil ini untuk membaca lebih banyak ayat-ayat al-quran. Walau kadang selesai target setelah mendekati limit laporan. Senang rasanya banyak teman-teman yang berjuang bersama saya. Walau awalnya "ala bisa karena terpaksa" (hehe) tapi semoga semakin hari kita makin bisa memperbaiki motivasi dan keikhlasan. Ayo semangat!!!
*nyeduh kopi*
![]() |
| Sachie edisi #onedayonejuz terinspirasi dari abang mujahid dan dede alfa |
oh iya ini kontak ODOJ bagi yang pengen gabung
facebooknya : https://www.facebook.com/KomunitasOneDayOneJuz
twitternya : https://twitter.com/ODOJ_ID
webnya : http://onedayonejuz.org/

















